Saturday, June 6, 2009

Contoh Saham

IHSG LEBIH SULIT DIPREDIKSI SEKARANG

Oleh : Terry Mart

Pengantar.

Hasil studi statistik sederhana terhadap dua indeks saham di Asia Tenggara, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan Indeks Kuala Lumpur Stock Exchange (KLSE) memperlihatkan bahwa fluktuasi IHSG saat ini cenderung lebih acak dibandingkan dengan fluktuasi di masa sebelum krisis moneter. Hal yang berbeda diperlihatkan oleh indeks saham negeri jiran, Kuala Lumpur Stock Exchange (KLSE). Tulisan ini mencoba untuk mempopulerkan makalah yang lebih teknis hasil studi statistik yang dapat di-download dari situs www.arXiv.org dengan kode makalah cond-mat/0208574.


Sejarah Fluktuasi Indeks Kedua Saham.
Selama ini sifat-sifat statistik dari fluktuasi indeks-indeks saham kebanyakan dipelajari hanya secara kualitatif. Mayoritas studi dilakukan hanya untuk melihat kecenderungan (trend) dari pergerakan harga saham dengan berpijak pada sejarah (history) harga saham tersebut di masa lampau. Studi seperti ini memang sangat diperlukan karena para pialang pada umumnya hanya ingin mengetahui berapa harga atau nilai suatu saham esok atau beberapa waktu mendatang. Meski demikian, pengetahuan akan sifat-sifat dasar dari pergerakan nilai sebuah saham sangatlah penting untuk mengenal lebih jauh saham tersebut.

Rasanya memang sulit untuk mengkuantisasi sifat-sifat dasar tersebut karena pergerakan nilai suatu saham dapat dipengaruhi oleh ribuan atau ratusan ribu variabel yang setiap detik dapat berubah, mulai dari demonstrasi mahasiswa kecil-kecilan hingga kebijakan pemerintah Amerika untuk menyerang Irak, semuanya dapat mengubah harga suatu saham secara signifikan. Ditambah lagi dengan ketidak-tahuan kita tentang korelasi eksak antara variabel-variabel tersebut dengan nilai suatu saham. Namun, krisis moneter yang menimpa negara kita (serta negara-negara tetangga) tampaknya telah meninggalkan jejak yang jelas dalam perkembangan perekonomian kita. Jejak tersebut juga dapat ditelusuri pada pergerakan indeks saham kita (serta indeks saham negara tetangga). Dengan demikian, suatu studi yang meski tidak sepenuhnya kuantitatif, namun jauh lebih dari sekadar kualitatif, dapat dilakukan pada indeks-indeks saham tersebut.

Pada Gambar 1 diperlihatkan fluktuasi IHSG dari tahun 1988 hingga 2002 yang diplot bersama-sama dengan kurs rupiah terhadap dollar US serta keuntungan (return) indeks saham. Keuntungan indeks dihitung berdasarkan rumus:
Z(t) = ln Y(t+dt) - ln Y(t) = ln [(t+dt) / Y(t)]
dengan Y(t) menunjukkan indeks harga penutupan pada hari t dan Dt menandakan jendela waktu yang diambil. Definisi ini berbeda dengan beberapa studi terdahulu karena pada studi-studi sebelumnya tidak digunakan logaritma natural seperti di atas. Namun, kelebihan dari definisi di atas sangat jelas, Z(t)  hanya bergantung pada rasio harga sesaat terhadap harga sebelumnya dan bukan terhadap modulus harga saham.

Dibandingkan dengan indeks-indeks saham besar seperti S&P 500 misalnya, fluktuasi yang terlihat pada Gambar 1 tergolong sangat dramatis. Tentu saja fluktuasi yang hebat terjadi pada saat kita memasuki era krisis moneter yang ditandai dengan anjloknya harga Rupiah terhadap Dollar pada pertengahan 1997 hingga awal 1998. Sebagai catatan, pemerintah Indonesia melepas nilai tukar rupiah pada pasar (currency float) pada pertengahan Agustus 1997. Pada saat yang sama indeks saham IHSG juga menurun secara tajam namun sempat menguat bersamaan dengan meningkatnya (meski sangat sedikit) harga rupiah hingga akhirnya jatuh kembali ke posisi paling rendah pada akhir September 1998.


Gambar 1. Grafik Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama 15 tahun (tengah) yang dibandingkan dengan kurs rupiah terhadap dollar US (atas) dan keuntungan indeks (bawah). Garis vertikal antara 10 Juli 1997 dan 23 Januari 1998 menunjukkan periode pada saat nilai Rupiah jatuh secara dramatis terhadap dollar US.

Keuntungan indeks memperlihatkan keadaan yang lebih riil. Sejak jatuhnya rupiah, fluktuasi keuntungan menjadi lebih cepat dan cenderung menurun ditahun-tahun berikutnya, meski tetap saja lebih besar dibandingkan dengan fluktuasi sebelum krisis. Apa yang diperlihatkan pada grafik keuntungan tersebut tidak lain adalah volatilitas (volatility) dari IHSG yang jauh lebih besar pada dan beberapa saat setelah krisis dibandingkan dengan sebelum krisis. Dalam makalah yang lebih teknis diperlihatkan bahwa volatilitas IHSG memang lebih besar hingga saat ini. Hal ini juga terlihat pada deviasi standar dari distribusi keuntungan yang secara signifikan terbukti lebih besar selama dan sesudah krisis. Kebanyakan studi di bidang finansial menggunakan deviasi standar sebagai ukuran volatilitas suatu saham. Di dalam model untuk option-pricing serta pada persamaan Black-Scholes, volatilitas merupakan salah satu input yang sangat penting.
 


Gambar 2. Grafik Pergerakan Indeks Saham Kuala Lumpur (KLSE) selama hampir 10 tahun (tengah) yang dibandingkan dengan kurs Ringgit Malaysia terhadap dollar US (atas) serta keuntungan indeks (bawah). Garis vertikal antara 10 Juli 1997 dan 23 Januari 1998 menunjukkan periode pada saat nilai Rupiah (bukan Ringgit) jatuh secara dramatis terhadap dollar US.

Fluktuasi indeks saham negeri jiran ternyata hampir sama dengan IHSG. Hal ini diperlihatkan pada Gambar 2. Menariknya, jika kita definisikan periode krisis moneter yang sama seperti pada Gambar 1, Ringgit dan KLSE mengalami degradasi yang hampir identik. Tercatat bahwa KLSE mencapai titik terrendah pada tanggal 1 September 1998 dan secara fluktuatif meningkat hingga sekarang. Fenomena ini mungkin dapat dipahami karena pada tanggal 1 September 1998 pemerintah Malaysia menetapkan harga Dollar terhadap Ringgit. Fluktuasi keuntungan memperlihatkan gejala yang sama seperti pada IHSG, dimana fluktuasi menjadi sangat tajam pada saat indeks saham mencapai harga terrendah.

Meski pemerintah Malaysia berhasil menngontrol harga Dollar US terhadap Ringgit, sebuah studi yang dilakukan oleh sekelompok ilmuwan di Universiti Kebangsaan Malaysia meragukan bahwa kebijakan tersebut memberikan dampak positif terhadap indeks KLSE. Memang jika kita bandingkan dengan IHSG tampaknya kedua saham memiliki korelasi yang kuat, sehingga faktor luar lain tampaknya lebih relevan untuk menjelaskan peningkatan KLSE. Bahkan, kelompok ilmuwan tersebut mengklaim bahwa kebijakan tersebut telah mendorong ke arah "mis-posisi" dari Ringgit. Selama tahun 1999 Ringgit telah mengalami overvalue karena mata uang regional lain seperti Yen Jepang dan Dollar Singapura mengalami depresiasi cukup berarti terhadap Dollar US. Sebagai konsekuensinya, ekspor Malaysia menjadi kurang kompetitif sehingga kebijakan ini mengakibatkan apa yang mereka sebut sebagai economic slowdown di Malaysia.

Sifat-sifat Statistik Fluktuasi Kedua Saham

Studi yang dilakukan terhadap kedua saham ini tergolong cukup berani karena hanya menggunakan data indeks saham harian yang berorde ribuan. Tidak seperti studi-studi yang dilakukan pada indeks-indeks saham utama seperti S&P 500, misalnya, yang dicatat per menit, jumlah data yang digunakan dapat berorde jutaan. Meski demikian, dengan menggunakan data IHSG dan KLSE yang dapat diambil dari internet, fluktuasi yang dicatat sudah dapat memperlihatkan sifat-sifat dasar suatu sistem kompleks. Hasil perhitungan memperlihatkan bahwa bagian sentral dari distribusi fungsi kerapatan peluang (probability density function) IHSG dapat dijelaskan dengan proses stabil Levy. Fenomena yang sama juga ditemukan pada KLSE. Secara umum terlihat bahwa distribusi keuntungan tidak dapat digambarkan dengan fungsi Gaussian, sehingga fluktuasi kedua saham terbukti tidak murni acak. Dengan kata lain kedua saham memperlihatkan trend tertentu pada fluktuasinya.

Meski demikian bukan berarti trend tersebut dapat dilihat secara mudah dan selalu ada setiap saat. Pada Gambar  3 diperlihatkan korelasi singkat dari indeks harian kedua saham yang dihitung berdasarkan rumus
C(t) = (< Z(t) Z(t+t) >  - < Z(t) >2) / (< Z2(t) > - < Z(t) >2)

dengan tanda menunjukkan harga rata-rata dari Z. Korelasi ini menunjukkan aspek ingatan (memori) suatu saham. Semakin lama korelasi suatu saham, semakin mudah prediksi ke depan dapat dilakukan pada saham tersebut. Namun sebaliknya, semakin singkat korelasinya, maka semakin sulit memperkirakan harga saham di masa depan. Korelasi juga sangat penting dalam menentukan model yang tepat untuk menjelaskan proses fluktuasi indeks saham. Studi sebelumnya memperlihatkan bahwa  saham S&P 500 memiliki korelasi yang meluruh secara eksponensial dengan waktu peluruhan karakteristik sekitar 4 menit. Karena baik IHSG maupun KLSE hanya memiliki data harian, kita tidak dapat berharap untuk memperoleh hasil yang lebih kuantitatif.

Untuk mempermudah pembahasan, ketiga periode yang dibatasi oleh dua garis vertikal pada Gambar 1 dan Gambar 2 dinamakan periode sebelum krisis, selama krisis, dan sesudah krisis. Meski definisi ini tidak begitu akurat, namun cukup membantu untuk menggambarkan sifat-sifat fluktuasi saham sebelum dan sesudah krisis.

Pada Gambar 3 terlihat jelas jika IHSG memiliki korelasi yang lebih baik dibandingkan KLSE, namun korelasi memburuk pada periode krisis dan agak membaik setelah itu. Meski demikian korelasi IHSG saat ini terlihat lebih singkat dibandingkan dengan korelasi sebelum krisis. Pada KLSE hal ini tidak terlalu jelas, namun jika diperiksa secara seksama terlihat bahwa korelasi sesudah krisis lebih panjang dibandingkan dengan sebelum krisis.


Gambar 3. Korelasi singkat dari IHSG dan KLSE sebelum, selama, dan sesudah krisis. Semakin cepat kurva korelasi jatuh menuju nilai nol berarti semakin singkat korelasi indeks saham, dengan kata lain semakin sulit untuk memprediksi harga saham di masa mendatang.

Jika korelasi masih sulit untuk menggambarkan apa yang dialami oleh IHSG dan KLSE saat ini, maka dapat digunakan momen distribusi yang didefinisikan sebagai

mu(k) = <  | g(t) | k >
dengan g(t) menyatakan keuntungan Z(t) yang telah dinormalisasi.

Hasil perhitungan momen IHSG untuk ketiga periode diperlihatkan pada Gambar 4. Pada gambar tersebut momen distribusi dibandingkan untuk jendela waktu yang berbeda-beda serta dibandingkan juga dengan momen distribusi Gaussian, yaitu untuk distribusi yang diakibatkan oleh fluktuasi acak sempurna. Apa yang dapat kita simpulkan dari ketiga periode tidak lain adalah bahwa momen setelah krisis mendekati momen acak sempurna. Dengan kata lain, jika sebelum krisis fluktuasi IHSG jauh dari acak, maka selama dan setelah krisis fluktuasi IHSG sudah mendekati acak sempurna. IHSG sudah kehilangan trend  yang ia perlihatkan di masa lampau.  


Gambar 4. Momen (mu) dari distribusi IHSG dihitung untuk jendela waktu antara 1 hingga 19 hari dibandingkan dengan momen untuk distribusi acak murni (Gaussian).

Hal yang berbeda diperlihatkan oleh KLSE pada Gambar 5. Pada KLSE terjadi proses sebaliknya. Sebelum krisis terlihat bahwa semua kurva untuk jendela waktu yang berbeda berada tidak jauh dari momen Gaussian. Selama dan setelah krisis, momen tersebut bergerak menjauhi momen dari proses acak.


Gambar 5. Momen (mu) dari distribusi KLSE dihitung untuk jendela waktu antara 1 hingga 19 hari dibandingkan dengan momen untuk distribusi acak murni (Gaussian).

Tentu saja berbagai alasan dapat dikemukakan untuk menjelaskan fenomena ini. Salah satu hal yang cukup masuk akal adalah kestabilan mata uang lokal yang dapat menenangkan hati para investor. Pada rupiah kestabilan terjadi sebelum krisis, sehingga kekhawatiran yang berlebihan untuk memiliki saham tidak terlihat. Trend fluktuasi indeks saham dapat dimengerti jika hal ini terjadi. Hal yang sama terjadi pada KLSE, namun setelah masa krisis.

Tampaknya saham IHSG lebih menguntungkan di masa lalu dibandingkan sekarang. Analisis terhadap nilai skewness dari distribusi keuntungan juga membuktikan hal ini. Setelah krisis kedua saham memberikan profit yang lebih sedikit, meski demikian KLSE sedikit lebih menguntungkan dari IHSG saat ini.

(Dr. Terry Mart, staf pengajar dan peneliti pada Departemen Fisika, FMIPA UI, Depok)

BURSA EFEK

Bursa efek atau bursa saham adalah sebuah pasar yang berhubungan dengan pembelian dan penjualan efek atau saham perusahaan serta obligasi pemerintah. Bursa efek tersebut, bersama-sama dengan pasar uang merupakan sumber utama permodalan eksternal bagi perusahaan dan pemerintah. Biasanya terdapat suatu lokasi pusat, setidaknya untuk catatan, namun perdagangan kini semakin sedikit dikaitkan dengan tempat seperti itu, karena bursa saham modern kini adalah jaringan elektronik, yang memberikan keuntungan dari segi kecepatan dan biaya transaksi. Perdagangan dalam bursa hanya dapat dilakukan oleh seorang anggota, sang pialang saham. Permintaan dan penawaran dalam pasar-pasar saham didukung faktor-faktor yang, seperti halnya dalam setiap pasar bebas, mempengaruhi harga saham (lihat penilaian saham). Sebuah bursa saham sering kali menjadi komponen terpenting dari sebuah pasar saham. Tidak ada keharusan untuk menerbitkan saham melalui bursa saham itu sendiri dan saham juga tidak mesti diperdagangkan di bursa tersebut: hal semacam ini dinamakan "off exchange".
penawaran pertama dari saham kepada investor dinamakan pasar perdana atau pasar primer dan perdagangan selanjutnya disebut pasar kedua (sekunder)

Saham dalam negeri

Sejarah
Perusahaan pertama yang mengeluarkan saham diperkirakan adalah [[Stora Kopparberg]] pada abad 13.
Tipe saham
Ada beberapa tipe dari saham, termasuk [[saham biasa]] (''common stock''), [[saham preferen]] (''preferred stock''), [[saham harta]] (''treasury stock''), dan saham kelas ganda (''dual class stock''). Saham preferen biasanya memiliki prioritas lebih tinggi dibanding saham biasa dalam pembagian [[dividen]] dan aset, dan kadangkala memiliki hak pilih yang lebih tinggi seperti kemampuan untuk memveto penggabungan atau pengambilalihan atau hak untuk menolak ketika saham baru dikeluarkan (yaitu, pemgang saham preferen dapat membeli saham yang dikeluarkan sebanyak yang dia mau sebelum saham itu ditawarkan kepada orang lain). Saham yang biasa dijual di [[bursa efek]] adalah saham biasa dan saham preferen tidak diperjualbelikan di bursa efek. Struktur kelas ganda memiliki beberapa kelas saham (contohnya, Kelas A, Kelas B, Kelas C) masing-masing dengan keuntungan dan kerugiannya sendiri-sendiri. Saham harta adalah saham yang telah dibeli balik dari masyarakat.
== Aplikasi ==
Masyarakat dapat membeli saham biasa di bursa efek via [[broker]]. Di [[Indonesia]], pembelian saham harus dilakukan atas kelipatan 500 lembar atau disebut juga dengan 1 [[lot]]. Saham pecahan (tidak bulat 500 lembar) bisa diperjualbelikan secara ''[[over the counter]]''. Salah satu tujuan masyarakat untuk membeli saham adalah untuk mendapatkan keuntungan dengan cara:
# Meningkatnya nilai kapital ([[capital gain]]).
# Mendapatkan [[deviden]].
Beberapa perusahaan Indonesia melakukan ''dual listing'' saham di [[Bursa Efek Jakarta]] dan [[New York Stock Exchange]]. Saham yang diperjualbelikan di [[NYSE]] tersebut biasa dikenal dengan American Depositary Receipt (ADR). Harga saham, bisa naik atau pun turun, seiring dengan situasi dan kondisi yang ada. Pada saat krisis moneter pada tahun 1998, Indeks Harga Saham Gabungan ([[IHSG]]) yang merupakan barometer saham di Indonesia terpuruk hingga mencapai nilai di bawah 400. Hal ini menyebabkan saham-saham di dalam negeri menjadi ''under value''. Dalam periode 2002-2006, nilai IHSG telah pulih bahkan sudah beberapa kali memecahkan rekor.
Untuk bisa menilai apakah sebuah saham bernilai mahal atau murah, biasanya digunakan rasio perhitungan seperti ''[[Earning-per-Share]]'' (EPS), ''[[Price-to-Earning Ratio]]'' (PER), ''[[Price-to-Book Value]]'' (PBV) dan lain-lain. Untuk berinvestasi di [[saham]], disarankan untuk melakukan teknik valuasi terlebih dahulu dan uang yang hendak diinvestasikan disebar di dalam beberapa saham, agar resiko bisa dibagi. Selain itu, banyak ahli (Jeremy J. Siegel, James P. O'Shaughnessy) menyarankan agar berinvestasi di dalam saham dilakukan dalam jangka panjang. Mereka menyarankan rentang waktu antara 10-20 tahun untuk bisa mendapatkan hasil yang signifikan dalam berinvestadi di dalam saham.
Pemegang saham (bahasa Inggris: shareholder atau stockholder), adalah seseorang atau badan hukum yang secara sah memiliki satu atau lebih saham pada perusahaan. Para pemegang saham adalah pemilik dari perusahaan tersebut. Perusahaan yang terdaftar dalam bursa efek berusaha untuk meningkatkan harga sahamnya. Konsep pemegang saham adalah sebuah teori bahwa perusahaan hanya memiliki tanggung jawab kepada para pemegang sahamnya dan pemiliknya, dan seharusnya bekerja demi keuntungan mereka
Pemegang saham diberikan hak khusus tergantung dari jenis saham, termasuk hak untuk memberikan suara (biasanya satu suara per saham yang dimiliki) dalam hal seperti pemilihan papan direktur, hak untuk pembagian dari pendapatan perusahaan, hak untuk membeli saham baru yang dikeluarkan oleh perusahaan, dan hak terhadap aset perusahaan pada saat likuidasi perusahaan. Namun, hak pemegang saham terhadap aset perusahaan berada di bawah hak kreditor perusahaan. Ini berarti bahwa pemegang saham biasanya tidak menerima apa pun bila suatu perusahaan yang dilikuidasi setelah kebangkrutan (bila perusahaan tersebut memiliki lebih untuk membayar kreditornya, maka perusahaan tersebut tidak akan bangkrut), meskipun sebuah saham dapat memiliki harga setelah kebangkrutan bila ada kemungkinan bahwa hutang perusahaan akan direstrukturisasi.

KONSEP EKONOMI KAFFAH

Selain surat al-Baqarah [2]: ayat 208, kata Kâffah juga terdapat dalam surat Saba [34] ayat 28 yang menyatakan 2 hal yaitu “pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan”.
Jika dalam System Thinking terdapat causal loop positif, maka Islam Kâffah terdapat pembawa berita gembira. Dan sebagai pemberi peringatan merupakan causal loop negatif. Sehingga System Thinking dapat disandingkan dengan Islam Kâffah. Jadi, kalau pendekatan barat adalah System Thinking, maka pendekatan Islam adalah Ekonomi Kâffah.
Pemaparan Ekonomi Kâffah dapat mengambil analogi dari System Thinking. Fungsi Ekonomi Kâffah di sini, untuk menjadi pilihan konsep bila ternyata Ekonomi Kapitalis sudah terbukti tidak mampu mengatasi masalah yang kompleks akhir-akhir ini. Sebagian ekonom barat mulai memperbaiki system ekonomi kapitalis dengan pendekatan system thinking. Dalam hal ini, Ekonomi Kâffah merupakan the rising star yang merupakan paradigma baru dari pertumbuhan pesat Ekonomi Islam. Kehadiran Ekonomi Kâffah menjadi entitas yang berdiri sendiri, memiliki diferensiasi, dan dasar yang kuar dari al-Quran (QS. AL-Baqarah [2]: 208), tetapi dalam menjembatani pengembangan Ekonomi Kâffah dianalogikan bersama System Thinking. Peradaban barat yang memiliki referensi yang terstruktur, metodologi yang mendasar, dan yang paling penting sudah merasuki setiap lembar pemikiran kaum intelektual dunia. Sehingga dirasakan akan lebih sederhana dan logis bila Ekonomi Kâffah muncul bersama konsep System Thinking.
Kekhususan yang dimiliki oleh Ekonomi Kâffah adalah penjabaran dari metode Sinlammim. Hal ini sesuai dengan isi al-Quran yang berbunyi ‘silmi kâffah’, dengan penjelasan bahwa kata ‘silmi’ merupakan derivasi dari huruf sin lam mim.
Metode Sinlammim dalam Ekonomi Kâffah, juga menjadi metode yang baru bagi pengembangan epistemologi system ekonomi Islam secara keseluruhan. Untuk memudahkan pengertiannya maka metode Sinlammim dipersamakan dengan metode System Dynamics yang sudah lebih dulu exist sejak sepuluh tahun terakhir.
Metode Sinlammim secara umum merupakan salah satu solusi untuk menembus kebuntuan kehidupan dalam rangka memecahkan permasalahan yang mendasar. Hal ini dirasakan perlunya suatu metode yang lebih baik untuk menjadi perimbangan dalam mengatasi kemandekan ilmu pengetahuan.
Hal ini sejalan dengan perkembangan peradaban terakhir yang menyatakan bahwa dirasakan perlu untuk mencari jalan tengah dari permasalahan ekonomi yang ada dengan beralih ke hal-hal yang berkaitan dengan spiritual. Semakin hari manusia semakin menginginkan peradaban yang lebih baik, lebih tajam, dan mampu menjawab semua aspek. Salah satu contoh dari bukti sederhana metode Sinlammim adalah pencarian jati diri dari tangan manusia. Yang semula manusia beranggapan bahwa tangan ini atau jari-jari ini adalah given dari Tuhan, maka dengan semakin kritisnya manusia mulai mencari tahu adakah pola tertentu yang menjadi standar dari penciptaan jari-jari manusia.
Pendekatan yang ada selama ini kurang mampu menjawab keingintahuan manusia yang lebih rinci. Pendekatan dapat dilakukan dengan berbagai cara salah satunya adalah dengan metode sinlammim. Dengan pendekatan ini manusia dapat sedikit membuka tabir konsep bentuk jari-jari manusia yang terkait erat dengan nilai spiritual yang ada dalam kitab suci.
Dengan metode sinlammim ini, manusia mencoba membuktikan bahwa model sinlammim ini ‘mampu atau tidak’ menjadi benchmark bagi setiap penciptaan yang ada di alam semesta ini. Jika dianggap bahwa dengan pendekatan ini dapat dibuat uraian tentang penciptaan jari-jari manusia, maka pertanyaan berikutnya adalah bagaimana dengan penciptaan selain tangan manusia ini ?



Gambar Metode Sinlammim Dalam Tangan Manusia

Sumber: Lukisan Tangan Sinlammim,
Milik Sendiri, Dr.Ir.H.Roikhan.MA.MM. 2006.
Pembuktian valid atau tidaknya sinlammim sebagai salah satu metode pendekatan dapat dilakukan dengan berbagai percobaan, trial and error, pengamatan dan penelitian yang dilakukan selayaknya oleh umat muslim sebagai pemilik dari model sinlammim ini. Kajian yang dilakukan sebenarnya tidak membatasi pada muslim maupun non muslim tetapi sekiranya metode ini mampu menghadirkan buah karya dari umat Islam sendiri, mengapa tidak umat muslim inilah yang memulai terlebih dahulu mencari tahu keabsahan metode sinlammim ini.
Untuk metode Sinlammim, juga memenuhi syarat sebagai salah satu pembanding dalam System Dynamics yaitu dengan pola feedbacknya. Elemen pertama adalah Tuhan, kemudian elemen kedua adalah alam, dan feedbacknya adalah ibadah. Bila System Dynamics mensyaratkan feedback sebagai bagian dari struktur sistemnya, maka Sinlammim juga memiliki feedback dalam hubungan di dalam sistem, seperti tersebut di atas.hubungan-sinlammim2
Dengan kemampuan ilmuwan barat untuk menguasai bahasa komputer dan teknologi, maka kehadiran platform Powersim merupakan hal yang biasa. Sedangkan dengan kemampuan menerjemahkan konsep Islam Kâffah ke dalam Sinlammim, maka kemunculan formula akar digit adalah hal yang luar biasa, karena di dalamnya tersirat nilai sederhana, ketakterhinggaan, dan bernilai mutlak.

KAFFAH ECONOMIC

In addition to a letter of al-Baqarah [2]: verse 208, says Kâffah also in a letter Saba [34] paragraph 28 which states that the 2 "of a good news and as a warner.
System Thinking in if there is a positive causal loop, so there is a bearer of Islam Kâffah tidbit. And as a warner, a negative causal loop. System so that I can disandingkan with Kâffah Islam. So if the west is System Thinking, the approach to Islam is Kâffah Economics.
Economic exposure Kâffah can take the analogy of System Thinking. Economic Kâffah function here, to be a choice when in fact the concept of capitalist economy is not able to overcome the complex problems of late. Some western economists began to improve the system with the capitalist economic system thinking approach. In this case, the Economic Kâffah is the rising star of a new paradigm is the rapid growth of Islamic Economics. Attendance Economic Kâffah become a stand-alone entity, has a differentiation, and the fundamental kuar from al-Quran (QS. Al-Baqarah [2]: 208), but the bridge development in the Economic System with Kâffah dianalogikan Thinking. Western civilization that has a structured reference, the basic methodology, and the most important pieces of each merasuki already thought the intellectual world. So that is felt to be more simple and logical when the economy appears Kâffah System Thinking with concepts.
Specificity of the Economic Kâffah is penjabaran method of Sinlammim. This is in accordance with the contents of al-Quran that reads’ silmi kâffah ‘, with the explanation that the word’ silmi ‘is a letter from derivasi sin lam mim.
Method Sinlammim in Economics Kâffah, is also a method for developing a new epistemology Islamic economic system as a whole. To facilitate the method does Sinlammim be the method System Dynamics has been the first exist since last ten years.
Sinlammim method in general is one of the solutions to penetrate the impasse in order to solve the fundamental problems. This perceived need for a better method for perimbangan a standstill in the sciences.
This is in line with the development of the last states that felt the need to find the middle road of economic problems that have to switch to things that are associated with the spiritual. The day people want more of a better, more sharp, and capable of all aspects. One example of a simple proof method is the search Sinlammim identity of the human hand. Originally thought that the human hand or fingers is given from God, the man with the start kritisnya find out what a particular pattern, which is the standard of the creation of human fingers.
Approach that is far less able to keingintahuan man more detailed. The approach can be done in many ways one of which is the method sinlammim. With this approach, people can open the curtain a little concept of the human fingers are closely related to the spiritual values that are in the sacred book.
With this method sinlammim, people try to prove that this model sinlammim ‘or not able to’ become a benchmark for each of the creation of the universe. If considered that with this approach, the description can be made about the creation of human fingers, then the next question is how the creation of man than this?

Figure Method Sinlammim In Human Hand
Source: Hand Painting Sinlammim,
Dr.Ir.H.Roikhan.MA.MM. 2006.

Dosen

Nama : DR.IR.H.Roikhan, MA.MM
Pendidikan : (ITB-S1, S2-MMUI, S3-UIN)
(Dow Jones, Telerate, Bridge, Moneyline, Reuters)

BiodataQw

Nama : Ahmad Farid
Nim : 106093003056
Tempat/tgl Lahir : Jakarta, 16 November 1987
Alamat : Jl. Kebon Nanas IV Rt.006/Rw.02 No.06 Grogol Utara Kebayoran Lama Jakarta Selatan
telpon : 08998221817